GAIN Bahas Keberlanjutan Emo Demo di Lokasi Intervensidan Non Intervensi Bondowoso

Foto: Kabid Kesmas Dinkes Bondowoso, dr. Titik (sebelah kanan) bersama Sylvia Andriani, DC GAIN Bondowoso, sedang memberikan pengarahan Diseminasi Teori BCD di Hall Café Orilla.

Sebanyak 50 orang peserta membahas strategi implementasi keberlanjutan Emo Demo bersama Global Alliance For Improve Nutrition (GAIN Indonesia) di lokasi intervensidan non intervensi. Acara ini dilaksanakan di Hall Cafe Orilla, Bondowoso (24/10).

Acara yang juga dikemas dengan penyerahan trophy reward terbaik Most Significant Change Story Emo Demo (MSC) tingkat Kabupaten Bondowoso ini, diikuti sebanyak 50 peserta terdiri dari 25 komite Puskesmas (PKM) intervensi dan non intervensi dan 25 perwakilan Trainer of Training (TOT) PKM intervensi dan non intervensi. Acara ini dilaksanakan oleh Global Alliance For Improve Nutrition (GAIN) Indonesia bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso.

Foto: Penyerahan trophy kepada PKM yang telah mengirimkan MSC Terbaik Tingkat Kabupaten Bondowoso.

Sebelum kegiatan pembahasan keberlanjutan Emo Demo ini dimulai, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, dr. Titik Erna Erawati menyerahkan trophy MSC terbaik kepada 8 pemenang yakni: pemenang periode Juni 2019 yaitu PKM Ijen dan PKM Grujugan, periode Juli 2019 yaitu PKM Ijen dan PKM Pujer. Sedangkan periode Agustus 2019 PKM Kotakulon dan PKM Ijen serta periode September 2019 yaitu PKM Kotakulon dan PKM Nangkaan.

Kegiatan yang berupa konsolidasi komitmen keberlanjutan ini dibuka oleh Kabid Kesmas. Dalam sambutannya, dr. Titik mengatakan bahwa konsolidasi komitmen keberlanjutan ini adalah kegiatan penting untuk diikuti. Pasalnya, GAIN hanya mendanai 15 PKM lokasi intervensi, untuk keberlanjutan Emo Demo harus dilakukan secara mandiri. Sementara sisanya yakni 10 Puskesmas merupakan lokasi non intervensi. Artinya, pembiayaan kegiatan Emo Demo di lokasi non intervensi ini didanai secara mandiri dari dana Biaya Operasional Kegiatan (BOK) Puskesmas dan PAK APBD TA 2019.

“Seharian ini, mbak Sylvi sebagai fasilitator akan menjelaskan strategi keberlanjutandari Emo Demo, sekaligus juga menjelaskan upgrade prinsip Emo Demo yang mengacu pada teori BCD. Kami berharap, agar peserta tidak ada yang meninggalkan acara sebelum acara tuntas sampai penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) keberlanjutan Emo Demo,” tegasnya.

Foto: Sylvia Andriani memfasilitasi RTL keberlanjutan Emo Demo di lokasi Intervensi dan Non intervensi

Acara ini di awali dengan penjelasan alur pertemuan, diantaranya: 1) Pembukaan dan penyerahan reward MSC terbaik tingkat Kabupaten Bondowoso; 2) Perkenalan; 3) Review prinsip Emo Demo; 4) Penjelasan teori BCD; 5) Strategi keberlanjutanImplementasiEmo Demo di lokasi intervensidan non intervensi; 6) Teknis PelaporanEmo Demo di Posyandu lokasi intervensi dan non intervensi; 7) Pengumpulan cerita MSC di lokasi intervensi dan non intervensi; 8) Penyusunan RTL dan diskusi keberlanjutan Emo Demo di lokasi intervensi dan non intervensi.

“Agenda pertemun ini akan kita selesaikan satu per satu. Semoga sehari ini bias tuntas. Baik itu, penjelasan teori BCD, strategi keberlanjutan hingga penyusunan RTL keberlanjutan Emo Demo di lokasi intervensi dan non intervensi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Sylvia Andriani sebagai District Coordinator (DC) GAIN Bondowoso menjelaskan bahwa inti dari Program Baduta 2.0 ini adalah keberlanjutannya di daerah. Hal ini dikarenakan, GAIN Indonesia mempunyai keterbatasan dalam penganggaran. Tidak salah kami mengundang peserta dari komite dan perwakilan TOT lokasi intervensi dan non intervensi. Tujuannya tidak lain, kita berharap nantinya ada komitmen dan tindak lanjut kepada seluruh stakeholder di tingkat Kecamatan dan Desa.

“Hari ini, kitaakan membahas rencana tindak lanjut sebagai wujud komitmen kita terhadap keberlanjutan Emo Demo di Posyandu, Taman Posyandu bahkan ada pengembangan di kelas ibu hamil, sekolah PAUD, TK, SD dan SMP serta kegiatan PKK dan Organisasi kemasyarakatan. Jadi di pertemuan ini, kitaberharap komite PKM dan perwakilan TOT dapat mengkomunikasikan lebih lanjut mengenai keberlanjutan Emo Demo kepada stakeholder di tingkat kecamatan dan tingkat desa.Adanya dukungan pendanaan BOK Puskesmas dan PAK APBD TA 2019 maka secara keseluruhan sasaran Emo Demo di Kabupaten Bondowoso meliputi 25 Puskesmas, 119 desa/kelurahan, 1.063 Posyandu dan 3.912 kader Posyandu telah dilatih Emo Demo serta telah didistribusikan 611 paket APE Emo Demo di lokasi non intervensi ,” paparnya.

Sylvia menjelaskan tentang pentingnya peran stakeholder dalam mengawal perubahan perilaku. Dia mengibaratkan proses perubahan perilaku dengan sebuah gelas. Gelas yang hanya disimpan dan dibiarkan beberapa jam, bulan bahkan hingga bertahun-tahun, tanpa perlakuan sama sekali. Pertanyaannya, apakah gelas akan berubah bentuk? Jawabannya pasti tidak. Berbeda halnya saat gelas diberi perlakuan khusus, misal dibanting. Hasilnya, gelas pecah dan berubah bentuk menjadi serpihan kaca. Itu hanya salah satu contoh perlakuan.

“Perubahanperilakuharusdiusahakanbukandidiamkan.Biladibiarkan, kemungkinan bisa sajaakanmengalamiperubahan, namun belum tentu berubah lebih baik sesuai yang kita harapkan. Lebih jelasnya, akan saya sampaikan contoh lain” lanjut Sylvia.

Sylvia menunjukkan contoh es batu dalam gelas dan air panas dalam termos.Esbatudalam gelas kalaudibiarkanakan mencair berubah bentuk dari es batu menjadi air. Proses mencair alami tanpa perlakuan memangbutuhwaktu. Namun adacaracepatagar segera mencair sesuai harapan kita. Es batu dalam gelas disiram air panas.

Kata dia, perilaku seseorang tidak akan berubah dikarenakan banyak hal. Bisa jadi, karena tidak tahu dan tidak paham. Tidak pernah memperoleh informasi. Atau pun karakteristik individu yang sulit diajak berubah. Proses mengajak berubah memang butuh proses dan butuh waktu. Demikian pula dengan perubahan perilaku Pemberian Makan pada Bayi dan Anak (PMBA) dan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), butuh perlakuan melalui metode Emo Demo.Proses perlakuan harus terus disampaikan dan dilakukan secara berulang-ulang agar dapat menjadi sebuah kebiasaan (habit) dan pada akhirnya terjadi perubahan pengetahuan, sikap dan tindakan (perilaku).

“Di akhir sesi ini, saya minta para peserta  menyusun dan mendiskusikan RTL Emo Demo di masyarakat. Harapannya, stakeholder dan masyarakat dapat saling mendukung dalam kebaikan. Perubahan perilaku, memang butuh proses. Bila seluruh stakeholder dan masyarakat terlibat dengan sabar, istiqomah, komunikatif, interaktif, persuasive dan tidak luput adalah dengan ikhlas, maka akan menghasilkan perubahan yang diharapkan seluruh masyarakat,” jelasnya. (Sylvia Andriani/ GAIN Indonesia)

Leave a Reply