Geliat Kader Posyandu Di Daerah Terpencil Bondowoso

Foto : Emo Demo ASI Saja Cukup di Posyandu Soka 3 Dusun Alas Lanjeng Desa Blimbing Kecamatan Klabang

Sukses pelayanan kesehatan di kota, mungkin itu hal biasa. Namun, bagaimana dengan pelayanan kesehatan di daerah terpencil…? Tentunya, hal tersebut dapat menjadi sebuah tantangan sekaligus kesempatan uji nyali. Pasalnya, tidak hanya kesabaran yang harus dikedepankan, kreatifitas hingga pemahaman tradisi sebagai sebuah kebiasaan sekaligus kearifan lokal, juga harus menjadi pertimbangan utama.

Belum lama ini, Bondowoso sudah dicabut statusnya sebagai daerah tertinggal. Kesuksesan ini lahir tidak hanya berkedip mata saja, Sim salabim abrah kadabrah. Namun, butuh proses dan waktu yang panjang.

Sumbangsih ini juga tidak lepas dari peran Posyandu sebagai ujung tombak dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak. Perannya cukup penting terutama dalam pemantauan pertumbuhan balita. Dengan ke Posyandu, masalah gizi pada balita akan segera dapat teratasi jika balita selalu rutin datang.

Selain fungsi kapasitas kelembagaan, kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) khususnya kader di Posyandu juga harus ditingkatkan dengan harapan capaian kehadiran balita dan ibu hamil yang mendapatkan pelayanan kesehatan dasar di Posyandu meningkat pula.

Salah satu upaya peningkatan kapasitas kader itu, berupa pelatihan Emo Demo (Emosional Demonstrasi). Mereka telah dilatih oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso bekerjasama dengan GAIN (Global Alliance for Improve Nutrition). Sedangkan tujuannya, adanya perubahan perilaku mengenai PMBA (Pemberian Makan Bayi dan Anak) dan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). Adapun mereka yang telah dilatih dan dibekali, dapatnya melaksanakan Emo Demo secara rutin setiap sebulan sekali di Posyandu dan Taman Posyandu masing-masing.

 

Perjuangan kader Posyandu tanpa lelah. Mereka punya peran masing-masing di desanya. Bahkan geliat Kader Posyandu di daerah terpencil tak kenal putus asa. Dengan demografi yang sebagian besar daerahnya pegunungan dan tandus, status pendidikan masyarakat yang masih rendah, merupakan tantangan tersendiri bagi para kader. Bagi mereka, kelemahan dijadikan kekuatan. Ancaman diubah menjadi sebuah peluang.

Contoh peran kader Posyandu, yakni di saat ada warganya yang masih memilih melahirkan ke dukun bayi. Kebanyakan di daerah terpencil masih percaya dan merasa cocok melahirkan di dukun bayi. Namun, kebiasaan lama itu mulai pupus bahkan saat ini dukun bayi menjadi mitra bidan desa disebabkan geliat peran kader Posyandu bersama petugas kesehatan yang luar biasa.

Gayung bersambut. Bidan desa tanpa henti memberikan pemahaman kepada kader tentang pengetahuan ibu hamil resiko tinggi yang harus dipantau dan dikawal kesehatannya, mulai kehamilan hingga proses persalinan. Dengan hal itu, Ibu hamil akan sadar dan tanpa paksaan memeriksakan kehamilannya secara rutin kepada petugas kesehatan serta mau bersalin di fasilitas kesehatan.

Peran kader Posyandu lainnya, semisal mematahkan kebiasaan “Tradisi Sobuk”, melumat pisang untuk makanan bayi. Tradisi ini dilakukan di Dusun Alas Lanjeng Desa Blimbing Kecamatan Klabang. Di dusun terpencil yang dikelilingi hutan jati. Ke desa itu, harus melewati alas hutan sepanjang 30 km atau sekitar 2 jam perjalanan dengan jalan yang terjal dan bebatuan dari Kecamatan Klabang. Di sana, seringkali para orangtua beranggapan bahwa bayi akan kurus dan tidak kenyang jika diberi ASI saja. Hal itu ditandai dengan bayi menangis terus walau sudah diminumi ASI. Nyatanya, setelah ASI diberikan dan ditambah lumatan pisang ternyata bayi terdiam. Walhasil, tradisi ini makin dipercaya dan sulit dihilangkan.

Pemberdayaan kesehatan masyarakat yang bersifat promotif dan preventif memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh kesabaran, kreatifitas, komunikasi intensif, pendekatan persuasif dan menghibur. Kenyataan di masyarakat, tumbuhnya kesadaran terhadap perubahan hidup sehat, seringkali terjadi ketika sudah kena musibah atau menderita sakit. Lantas, mereka baru berkeinginan berobat ke petugas kesehatan. Itu pun mereka berharap proses pengobatan bisa langsung sembuh seketika.

Wah berat ya….!!! Begitulah masyarakat yang belum sadar terhadap pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat, serta menjaga kesehatan sebelum terjadi sakit. Apalagi ditambah masih kurangnya kesadaran terhadap menjaga kesehatan ibu hamil dan kesehatan bayi sejak dini.

Keterbatasan personel petugas kesehatan merupakan tantangan tersendiri dalam pemenuhan pelayanan kesehatan. Posyandu tidak hanya dibentuk dan didirikan oleh masyarakat dari masyarakat dan untuk masyarakat, tetapi juga dapat berguna dalam memantau dan memberikan pelayanan dasar kesehatan khususnya bagi balita dan ibu hamil.

Upaya Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Dinas Kesehatan terus melakukan pembinaan kader Posyandu. Beberapa waktu ini, kader Posyandu telah dilatih Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso di Puskesmas. Para utusan kader Posyandu di setiap desa dilatih mengenai Metode Emo Demo untuk perubahan perilaku dalam hal Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) dan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). Mereka diajarkan 12 modul Emo Demo PMBA dan CTPS beserta prakteknya. Selanjutnya, mereka menyampaikan Emo Demo di Posyandu masing-masing, dengan harapan ibu hamil dan ibu balita yang hadir memperoleh pengetahuan dan semangat hadir ke Posyandu.

Dalam perjalannya melatih di Posyandu masing-masing, ada hal menarik. Masyarakat desa terpencil menganggap bahwa Emo Demo selain mendapat pengetahuan berupa pelatihan, malah ada yang beranggapan Emo Demo sebagai kegiatan hiburan. Aih… Kok bisa ya… sebagai hiburan???.

Pandangan orang desa, sesuatu yang ramai dan menarik disertai demontrasi adalah sebuah hiburan. Di daerah terpencil, hiburan sangatlah kurang. Hiburan bagi mereka, di saat ada kegiatan seperti resepsi pernikahan, khitanan serta kegiatan desa lainnya.

Tidak mengurangi makna. Emo Demo menampilkan cara baru dalam penyampaian pesan perubahan perilaku PMBA dan CTPS. Masyarakat diajak terlibat aktif sehingga tergugah emosinya dan merasa jijik, terharu, muncul rasa kasih sayang, terkejut bahkan menangis. Akhirnya, mereka menjadi tahu dan sadar, perilaku PMBA dan CTPS yang benar seperti apa.

Tradisi sobuk yang awalnya menjadi kebiasaan, mulai bergeser. Dengan pengetahuan Emo Demo, masyarakat menjadi tahu, mampu, sadar dan mau berubah secara perlahan namun pasti. Sehingga masyarakat punya kemampuan dan kemauan guna berperilaku hidup sehat. (Sylvia Andriani, GAIN Indonesia)

 

Leave a Reply