Inginkan Perubahan Perilaku Anak, IGRA Bondowoso Praktekkan Emo Demo

(Inmas) Kab. Bondowoso- Setelah memperoleh pelatihan Emo Demo, Master Of Trainer (MOT) dari Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) mempraktekkan metode Emo Demo kepada siswa dan wali murid pada acara parenting di RA Plus Al Falah Desa Penanggungan Kec. Maesan (03/09).

Salah satu guru IGRA yang mempraktekkan metode Emo Demo (Emotional Demonstration) ini sebelumnya telah dilatih oleh Lembaga Internasional yang bernama Global Alliance For Improve Nutrition (GAIN) Indonesia yang bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan dalam mendukung Program Baduta 2.0.

Sekedar diketahui, Emo Demo singkatan dari Emosional Demonstration ini merupakan sebuah metode pendekatan perubahan perilaku melalui permainan edukatif yang komunikatif, partisipatif dan menarik dengan menggugah emosinya agar berubah pola pikir dan perilakunya.Metode ini dilengkapi dengan 12 modul atau alat bantu dalam mendemonstrasikan permainan edukatif tersebut

Adalah Wiwiek Yoelianti, S.Pd, salah satu guru yang terinspirasi untuk mengadakan praktek Emo Demo modul cemilan sembarangan di Lembaga yang berada di Kecamatan Maesan Kabupaten Bondowoso tersebut.

“Memotivasi siswa dan wali murid untuk melakukan perubahan perilaku butuh waktu dan proses. Namun, karena saya pernah dilatih dan ikut pelatihan metode Emo Demo, kesulitan itu saya rubah menjadi sebuah tantangan,” ungkap perempuan asli Bondowoso ini.

Pelan namun pasti, Bunda Yoeli, akrab dipanggil, menceritakan kalau Emo Demo ini merupakan insiatif dirinya untuk kegiatan parenting. Biasanya, lanjut dia, kegiatan parenting hanya bersifat memotivasi siswa RA untuk menjelaskan bahwa pola pembelajaran anak adalah dunia bermain.

“Bermain anak adalah belajar. Sebaliknya, belajar anak adalah bermain. Jadi, kita menghimbau kepada orang tua wali murid untuk mengarahkan bermain anak kepada pola permainan yang positif,” ujarnya.

Namun, setelah mengenal Program Baduta 2.0 Metode Emo Demo ini, dirinya merasa perlu untuk menjelaskan tentang pentingnya cemilan sehat. Dengan pemahaman berupa praktek demonstrasi modul cemilan sembarangan, diharapkan siswa dan wali murid, punya keinginan melakukan perubahan perilaku. Dari membiarkan anak makan cemilan sembarangan, berubah menjadi mengkonsumsi jajan dan cemilan sehat.

“Alhamdulillah..siswa banyak yang ikut Emo Demo ini. Sebanyak 57 siswa dan 57 wali murid yang hadir. Sementara guru RA sendiri berjumlah 5 orang. Mereka antusias menyimak penjelasan dari saya,” ungkap Yoeli.

Dijelaskannya, Bunda Yoeli kepada siswa bahwa cemilan yang tidak sehat sering terbuat dari bahan yang berbahaya dan tidak bergizi. Dirinya meminta kepada wali murid, meskipun anak kita menangis, jangan berikan cemilan sembarangan yang tidak sehat. Untuk itu, dia menghimbau untuk memberikan cemilan sehat kepada anak, seperti: buah-buahan, sayuran dan cemilan yang ibu buat sendiri.

“Bila ini terus dilakukan dengan memberikan cemilan sehat kepada anak, maka saya menjamin anak ibu tidak mudah kena penyakit. Selain itu, anak akan terbiasa lebih memilih makanan dari rumah daripada membeli makanan yang justru menimbulkan penyakit. Sehingga, berdampak pada anak mudah sakit dan malas untuk sekolah,” jelasnya.

Kendati, perubahan perilaku itu butuh proses, Yoeli berjanji akan tetap senantiasa mempraktekkan metode Emo Demo di RA. Sukses telah melaksanakan modul cemilan sembarangan, selanjutnya dirinya akan mempraktekkan modul Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS).

“Insya Allah bulan depan akan saya berikan praktek CTPS pada kegiatan serupa di acara parenting. Saya hanya berharap, usaha ini akan membuahkan hasil sehingga ada perubahan perilaku pada anak dan wali murid,” harapnya optimis. (Sylvia/his)

Leave a Reply